Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Monday, May 19, 2014

Masa Pemerintahan Bala Tentara Jepang



Pada tanggal 8 Maret 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Perusahaan kereta api negara (SS) dan 12 perusahaan kereta api swasta (VS) pengelolaannya disatukan oleh Pemerintah. Pendudukan Jepang dan berkantor pusat di Balai Besar Kereta Api di Jalan Gereja Nomor 1 Bandung (sekarang Jalan Perintis Kemerdekaan Nomor 1 Bandung). Kereta api di Jawa dikuasai oleh Angkatan Darat Jepang diberi nama RIKUYU SOKYUKU dan dibagi dalam tiga daerah eksploitasi, yaitu
  1. Seibu Kyoko di Jawa Barat;
  2. Chubu Kyoko di Jawa Tengah;
  3. Tobu Kyoku di Jawa Timur.
Kereta api di Sumatera dikuasai oleh Angkatan Laut dan dibagi dalam tiga daerah eksploitasi, yaitu :
  1. Nanbu Sumatora Tetsudo di Sumatera Selatan termasuk Lampung;
  2. Seibu Sumatora Tetsudo di Sumatera Barat; 
  3. Kita Sumatora Tetsudo di Aceh dan Sumatera Utara.

Masa Hindia Belanda


Kereta api mulai diperkenalkan di Indonesia, pada masa penjajahan Belanda, oleh sebuah perusahaan swasta Belanda, NV. Nederlandsch Indische Spoorweg Mij (NISM), pada tahun 1864. Jalur kereta api pertama dibangun pada 17 Juni 1864, yakni jalur antara Kemijen—Tanggung di daerah sekitar Semarang, sepanjang 26 Km. Jalur tersebut diresmikan oleh Gubernur Jenderal L.A.J Baron Sloet Van Den Beele. Pada tanggal 18 Februari 1870, NISM meneruskan  pembangunan jalur tersebut, dan membukanya untuk umum dengan lintas;  Semarang – Solo – Yogyakarta.
Tanggal 10 April 1869, pemerintah Hindia Belanda mendirikan Staats Spoor (SS) dan membangun lintasan Batavia—Bogor. Tanggal 16 April 1878, perusahaan negara ini membuka jalur Surabaya—Pasuruan, dan pada tanggal 20 Juli 1879 dibukalah jalur Bangil—Malang. Pembangunan terus berjalan hingga ke kota-kota besar seluruh Jawa terhubung oleh jalur kereta api. Selain di pulau Jawa,  Staats Spoor juga mulai membangun jalur kereta api di luar Jawa seperti di Sumatera dan sulawesi, pada tanggal 12 Nopember 1876, Staats Spoorwegen membangun jalur Ulele—Kutaraja (Aceh). Selanjutnya lintasan Palu Aer—Padang (Sumatera Barat) pada Juli 1891, lintasan Telukbetung—Prabumulih (Sumatera Selatan) tahun 1912, dan  membangun jalur Makasar—Takalar (Sulawesi) pada tanggal 1 Juli 1923. Di Sumatera Utara, NV. Deli Spoorweg Mij juga membangun lintasan Labuan—Medan pada tanggal 25 Juli 1886.

Sejarah Panjang Kereta Api Indonesia


Sejarah perkeretaapian sama seperti sejarah alat transportasi umumnya yang diawali dengan penemuan roda. Mulanya dikenal kereta kuda yang hanya terdiri dari satu kereta (rangkaian), kemudian dibuatlah kereta kuda yang menarik lebih dari satu rangkaian serta berjalan di jalur tertentu yang terbuat dari besi (rel) dan dinamakan trem. Kereta seperti ini juga digunakan di daerah pertambangan dimana terdapat lori yang dirangkaikan dan ditarik dengan tenaga kuda.

Setelah James Watt menemukan mesin uap, Nicolas Cugnot membuat kendaraan beroda tiga bertenaga uap. Orang-orang menyebut kendaraan itu sebagai kuda besi. Kemudian Richard Trevithick membuat mesin lokomotif yang dirangkaikan dengan kereta dan memanfaatkannya pada pertunjukan di depan masyarakat umum. George Stephenson menyempurnakan lokomotif tersebut dan memenangi perlombaan balap lokomotif untuk kemudian digunakan di jalur Liverpool-Manchester. Waktu itu lokomotif uap yang digunakan berkonstruksi belalang. Penyempurnaan demi penyempurnaan dilakukan untuk mendapatkan lokomotif uap yang lebih efektif, berdaya besar, dan mampu menarik kereta lebih banyak.